Kancil Ditangkap Pak Tani
Kancil Ditangkap Pak Tani
“Na.......ini ternyata
pencurinya!” ujar Pak Tani sambil menangkapku yang terjepit diantara pagar
kawat berduri dan tanah kering yang sudah tidak muat lagi karena perut kancil yang
membesar kebanyakan makan timun.
Ada rasa perih di
punggung akibat tusukan duri dari pagar. Ada ketakutan yang sangat terhadap
perlakuan Pak Tani yang bisa saja saat itu memukul dengan sangat kerasnya
sehingga bisa mematahkan tulang-tulang.
Untung Pak Tani sedang
berbaik hati, diikatnya sang kancil dan dibawa pulang ke rumah.
Di jalan Pak Tani
bergumam. “Lumayan bisa dijadikan sate besok hari Minggu,” katanya.
“Mati aku!” jerit sang
Kancil dalam hati.
“Tini.....” Pak Tani
memanggil anaknya ketika sampai di depan rumah.
“Ini ada binatang
kancil yang terjebak mencuri timun di kebun kita.” Kata pak Tani kepada anaknya
gadisnya yang masih kecil.
“Ih cantiknya! Tapi punggungnya
berdarah Pak!” kata Tini kepada Pak Tani.
“Biar saja, bentar
lagi Bapak potong. Bisa jadi lauk kita nanti sore!” kata Pak Tani.
Berdesir hati si
Kancil. Sebentar lagi dirinya akan dipotong Pak Tani dijadikan sate.
Kecerobohan dan
keserakahan telah mengubah jalan hidupnya dalam sekejab. Umurnya hanya tinggal
menunggu waktu saja.
Si Kancil teringat
Bapak dan Ibunya. Teringat nasehat-nasehatnya yang tidak pernah diindahkan.
Teringat kawan-kawannya yang pasti dengan cemas akan mencarinya.
Nasi kini telah
menjadi bubur. Sulit rasanya untuk menghindar dari takdir yang akan menimpanya.
Tiba-tiba, Tini anak
Pak Tani berteriak. “Jangan Pak! Tini mau Kancil jadi kawanku. Dia bisa
berkawan dengan Bruno anjing kita.”
Sejenak Sang Kancil
merasa lega.
“Sayang, kancil adalah
binatang hutan. Dia itu liar dan tidak bisa jinak seperti anjing,” bujuk Pak
Tani.
“Tidak! Aku mau kancil
jadi temanku! Biarkan dia dikurung saja supaya tidak bisa lari.” Kata Tini.
Kancil merasa tenang
dan berharap Pak Tani mengabulkan permintaan putri kecilnya. Dia berdoa, “Ya
Tuhan, bila Kau ijinkan aku bebas maka aku akan berbakti kepada orang tuaku. Mematuhi
segala nasehatnya."
Doa dipanjatkan dengan
penuh harap sehingga keluarlah air matanya. Pedih dan darah masih keluar dari
punggungnya membuat matanya berat dan pingsan. Kancil tidak ingat apa-apa lagi, dia pingsan.
Hari sudah gelap
ketika Kancil sadar dari pingsannya. Dia menyadari bahwa dirinya sekarang
berada di luar rumah. Dari dalam rumah suara Pak Tani terdengar lamat-lamat “Besok
saja di kubur. Kancil tersebut sudah mati karena pendarahan. Tidak baik memasak
binatang yang sudah mati menjadi bangkai, besok saja Bapak kubur biar tidak bau.”
Kancil pun segera
menyadari bahwa saat ini dirinya selamat. Tanpa membuang-buang waktu lagi
diapun lari menjauh dari rumah Pak Tani menuju hutan untuk bertemu Bapak dan
ibunya yang pasti menunggu dengan harap-harap cemas.
Bagaimana nasib Kancil
selanjutnya?
Cerita masih terus
bersambung....
Komentar
Posting Komentar