Cerita Anak Populer Kancil Nyolong (Mencuri) Timun


Cerita Anak Populer Kancil Nyolong (Mencuri) Timun

Kancil atau ada yang menyebutnya dengan pelanduk adalah binatang hutan yang hidup di hutan berbentuk seperti kambing atau rusa tetapi berukuran kecil sebesar anjing. 

Terkenal dengan kecerdikannya dan dalam kondisi berbahaya di alam nyata bisa mengelabui predatornya dengan pura-pura tidak bergerak sehingga dianggap mati. Ketika bahaya sudah berlalu kacil pun dengan serta merta berlari menjauh.

Kancil nyolong (mencuri) timun adalah sebuah cerita anak yang sangat populer dan menjadi dongeng favorit dari penulis. Dongeng ini adalah karya anonim yang tidak diketahui dengan pasti siapa penciptanya dan pada tahun berapa.

Cerita ini berkisah tentang kecerdikan Kancil dalam menghadapi semua permasalahan hidup. Ada saatnya terjerumus dalam pekerjaan yang sia-sia. Hal ini tidak perlu diteladani, justru bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Ketika masalah sudah menimpa, ternyata kita tidak boleh berputus asa karena akan ada saja jalan keluar yang bisa ditempuh untuk keluar dari masalah.

Kecerdikan dan kelicikan dari Sang kancil ini semoga bisa menjadi gambaran apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindarkan. Prinsip dasarnya adalah apa yang jelek seperti mencuri, makan terlalu kenyang, tidur terlalu lama dan lain-lain harus ditinggalkan. Sebaliknya hal-hal baik seperti sifat tidak mudah menyerah dan kepintaran menyelesaikan masalah dan lain-lain bisa menjadi motivasi untuk semuanya.

Cerita ini akan penulis lanjutkan secara berseri karena banyak sekuel-sekuel cerita yang jumlahnya sangat banyak. Sekuel tersebut semoga bisa menjadi sebuah jalinan cerita anak yang utuh tetapi sederhana untuk dapat dibukukan bila dianggap sudah selesai nantinya.

Penulis juga mengundang Anda yang gemar mendongeng untuk melanjutkan cerita di bawah ini dengan ketentuan ditulis antara 500 – 700 kata untuk satu sekuel. Kirim cerita Anda ke email: dewantojbi@gmail.com untuk saya gabung-gabungkan agar menjadi satu jalinan cerita yang utuh.
Harap diingat, karena cerita ini untuk anak-anak maka pilihlah bahasa sederhana biar mudah dicerna, mengandung banyak hikmah dan jauhkan dari kata-kata yang mengandung unsur SARA.

Tertangkapnya Kancil Sang Pencuri Timun

Pada suatu hari yang sangat panas Kancil merasa haus dan lapar. Dia berjalan menyusuri hutan hingga tak terasa sampai di pinggir sebuah desa. Di pinggir desa tersebut terbentang sebuah kebun timun yang sangat luas. Timun tersebut sangat ranum menunggu untuk dipetik oleh Pak Tani pemilik lahan.

“Pucuk dicinta ulampun tiba. Aku sudah lapar dan ternyata ada timun lezat. Pasti selain menyegarkan dan aku bisa makan dengan kenyang,” pikir Kancil yang langsung merasa lapar hendak menyantap timun-timun ranum yang ada di depan matanya.

Kancil berusaha masuk ke dalam kebun. Ternyata kebun dikelilingi oleh pagar kawat berduri yang sangat rapat sehingga tidak memungkinkan binatang sebesar kancil bisa masuk.

Petani sangat paham bahwa berkebun di pinggir hutan sangat rawan dirusak oleh binatang sehingga harus dipagar dengan rapat. Untuk masuk ke dalam kebun itu Pak Tani pemilik kebun membuat sebuah pintu yang tiap hari ditutup dan dikunci agar aman.

Kancil adalah binatang cerdik, sehingga diapun mencari akal untuk bisa masuk ke dalamnya.

Berbagai cara Kancil lakukan untuk dapat masuk ke dalam kebun. Menabrak hanya menyebabkan luka karena pagar terbuat dari kawat berduri. Mengkorek-korek tidak berhasil karena kuku Kancil terlalu lemah dan tidak di desain seperti kuku kelinci yang bisa melobangi tanah. Begitu juga untuk berusaha melompatinya ternyata pagarnya cukup tinggi untuk bisa dilompati kancil.

Kancil tidak berputus asa. “Pasti ada celah untuk masuk ke dalamnya,” gumam Kancil sambil mengelilingi pagar yang melingkari kebun timun.

Benar. Sekuat apapun usaha orang dalam melindunginya, pasti ada saja celah yang dapat ditembus.

Perkiraan Kancil sangat tepat. Ternyata ada sedikit celah yang dapat dimasuki Kancil karena ada selokan tempat pembuangan air becek hampir kering.

Tanpa membuang waktu Kancilpun memasuki kebun melalui celah parit kecil tersebut. Walaupun badan jadi kotor semua tidak jadi masalah karena yang penting bisa masuk dan bisa menikmati timun segar yang sekarang sudah ada di depan hidungnya.

Kanci makan dengan lahapnya sehingga menjadi sangat kekenyangan. Siapapun yang makan dengan kekenyangan pasti mengantuk karena energi tubuh digunakan untuk mencerna makanan yang masuk ke dalam perut.

Angin sore yang sepoy-sepoy menjadikan mata bertambah berat sehingga Kancil tertidur dengan sangat lelap di bawah pohon timun.

Ketika bangun ternyata hari sudah mulai beranjak pagi. Matahari sudah bersinar menerangi bumi sehingga Kancil merasa silau.

Karena kekenyangan Kancil sampai tidak merasa lebih dari 12 jam atau setengah hari digunakan untuk tidur. Waktu tidur terlalu panjang membuat badan lemas dan sakit semua sehingga Kancil menjadi malas-malasan beranjak dari tempat tersebut.

Kancil merasa apa yang ada di sekelilingnya semua adalah miliknya, dan dia dapat dengan mudah memakannya sesuka hatinya.

Sayangnya, pagi hari itu adalah waktunya Pak Tani pemilik kebun timun untuk memetik hasil panennya.

Ketika Pak Tani datang dengan ditemani anjingnya Kancil benar benar tidak bisa bergerak karena perut benar-benar kekenyangan sehabis makan timun ketika bangun tidur.

Dengan sekuat tenaga Kancil berlari menuju selokan tempat dia masuk kemarin. Apa yang terjadi? Ternyata selokan sudah benar-benar kering dan keras. Lubang yang kemarin cukup untuk masuk kini sudah tidak muat lagi karena selain kering perut Kancil pun menjadi besar karena makan terlalu banyak.

Kancilpun hanya bisa pasrah dan menjerit ketika anjing Pak Tani menggigit kakinya karena badannya terjepit didalam selokan kering.

Untung Pak Tani Segera datang dan menyuruh anjingnya menyingkir dan menangkap kancil serta mengikatnya.

“O…ini pencuri timunnya? Lumayan bisa dijadikan sate besok pagi,” kata Pak Tani.

Kancil menangis, meronta, meraung dan menghiba. Pak Tani tidak peduli, Dibawanya kancil tersebut ke rumah dan dimasukkan kandang yang dikunci dari luar.

Penyesalan datang terlambat. Nyawanya kini di ujung tanduk akibat keserakahan dan kebodohannya.

Bersambung…………………….






Komentar